Senin, 19 November 2007

FULL COAL EXPLORATION ON MUARA KAMAN KUTAI KARTANEGARA INDONESIA

LAPORAN

POTENSI BATUBARA

DI WILAYAH PT. KELAPA GADING SEMITUNGGAL

KECAMATAN MUARA KAMAN

KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

OLEH :

TIM EKSPLORASI

PT. KELAPA GADING SEMITUNGGAL

TENGGARONG

2005


BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

PT. Kelapa Gading Semitunggal sebagai investor penanaman modal dalam negeri ingin ikut berkiprah dalam peluang usaha penambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara, sekaligus dalam rangka memperluas kesempatan berusaha dan berusaha sharing dengan masyarakat setempat untuk meningkatkan Kesejahteraan bersama. Salah satu tahapan dalam memperoleh izin penambangan batubara adalah mengadakan peninjauan potensi batubara sehingga dapat diketahui potensi bahan galian batubara secara umum di wilayah Peninjauan PT. Kelapa Gading Semitunggal yang berlokasi di Kecamatan Muara kaman, Kabupaten Kutai Kertanegara, Propinsi Kalimantan Timur.

I.2 Maksud dan Tujuan

Peninjauan potensi bahan galian batubara di wilayah PT. Kelapa Gading Semitunggal dimaksudkan untuk memperoleh data – data Geologi yang meliputi data mengenai jenis, sifat, kualitas bahan galian batubara dan kondisi umum daerah yang meliputi sosial-ekonomi, iklim, sarana dan prasarana, flora dan fauna serta tataguna lahan.

Tujuan dilakukannya kegiatan peninjauan ini adalah untuk mengetahui keadaan batubara di wilayah tersebut, sehingga dapat diketahui gambaran mengenai penyebaran, jumlah seam, kualitas, cadangan serta keadaan umum daerah sekitarnya. Atas dasar data tersebut maka dapat dipergunakan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya untuk rencana kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi dan eksploitasi.

I.3 Lokasi Daerah Penyelidikan

Lokasi penyelidikan secara administratif termasuk Kecamatan Sebulu dan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur Penyelidikan bahan galian batubara dilakukan di atas lahan seluas 4.731 Ha. Dengan kode wilayah KTN 2005 055 SKIP. (batas astronomis terlampir pada lampiran izin SKIP).

Untuk mencapai daerah tersebut dari Kota Tenggarong ke daerah SP 2 dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan kondisi jalan aspal dengan waktu tempuh 3 jam, kemudian dilanjutkan ke lokasi peninjauan yang berlokasi di sebelah Utara SP 2 dengan waktu tempuh 0,5 jam, Untuk mencapai lokasi – lokasi singkapan batubara dapat ditempuh dengan berjalan kaki menelusuri jalan setapak dan sungai.

I.4 Keadaan Lingkungan

Uraian tentang kondisi umum daerah penyelidikan meliputi kondisi sosial ekonomi, iklim dan curah hujan, flora dan fauna, serta tataguna lahan, adalah seperti berikut ini.

I.4.1 Kondisi Sosial Ekonomi

Pemukiman penduduk terletak di bagian Selatan lokasi yaitu di Desa Sidomukti, Panca Jaya dan Manunggal daya kecamatan Muara Kaman

Mata pencaharian umumnya sebagai petani, peladang, pedagang, pegawai swasta perkayuan dan sebagian kecil pegawai negeri. Sarana pendidikan terdiri dari 1 buah SD.

Masyarakat sekitar lokasi 85% beragama Islam, 15% beragama Kristen dengan sarana peribadatan masjid 3 buah.

I.4.2 Iklim dan Curah Hujan

Seperti halnya wilayah lain di sekitar Kecamatan Muara Kaman mempunyai iklim tropis. Curah hujan antara 1500 - 2000 mm per tahun, atau 8 - 9 hari hujan per bulan. Musim penghujan dimulai bulan April - Agustus. Suhu udara rata-rata antara 25° - 27° C, perbedaan temperatur maksimum dan minimum 140 C, kelembaban nisbi rata-rata 87%.

I.4.3 Topografi

Topografi daerah penyelidikan merupakan dataran dan bergelombang lemah, perbedaan tinggi antara lembah dan puncak bukit mencapai 25 m dengan kemiringan relatif lereng 0° - 6°. Dilihat dari perkembangan aliran sungai sekitar lokasi, dimana jarak antar alur atau sungai telah maksimum, maka daerah tersebut tergolong berstadia dewasa. Tingkat pelapukan batuan di daerah penelitian cukup intensif, ditujukkan oleh ketebalan soil yang relatif tebal 1 – 5 m.

I.4.4 Flora dan Fauna

Jenis-jenis tumbuhan yang ada sebagian besar merupakan tanaman rawa dan hutan sekunder yang masih muda.

Fauna yang ada dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu :

- Fauna liar : babi hutan, ular, kijang, biawak, kadal, ayam hutan, dll.

- Fauna piaraan : sapi, kerbau, kambing, anjing, kucing, ayam, dll.

I.4.5 Tata Guna Lahan

Menurut Peta RTRW Propinsi Kaltim daerah penelitian masuk dalam kawasan Budidaya Non Kesehatan (KNBK).

I.5 Waktu

Pelaksanaan kegiatan peninjauan potensi batubara dari persiapan sampai pembuatan laporan berlangsung seperti pada tabel dibawah ini :

SKEDUL SURVEY PENINJAUAN

PT. KELAPA GADING SEMITUNGGAL

Rincian Kerja

Juni

Juli

18

19

20

25

30

31

1

5

8

10

15

18

21

1. Studi Pustaka

2. Persiapan lapangan

3. Penyelidikan lapangan




4. Analisa laboratorium

5. Analisa data terpadu




6. Pembuatan Laporan

I.6 Metoda dan Peralatan

Metode penyelidikan dilakukan melalui pemetaan permukaan (surface mapping) Batubara yaitu dengan mengamati ciri-ciri fisik batubara, pengukuran kedudukan lapisan, ketebalan, penyebaran, dan tebal tanah penutup overburden (OB), juga dilakukan penelitian roof, floor, parting dan key bed untuk mengetahui pelamparan batubara. Survei dilakukan dengan menyusuri aliran-aliran sungai dan jalan untuk mencari singkapan-singkapan batubara (outcrop).

Data Geologi ini akan membantu dalam penentuan seam dan korelasi singkapan batubara serta berguna dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi batubara di daerah ini selanjutnya.

Peralatan yang dipergunakan dalam kegiatan peninjauan ini terdiri dari

- GPS 2 buah, kompas geologi 2 buah, palu geologi 2 buah, loupe 2 buah, peta topografi skala 1 : 52.200 20 lembar, pita ukur 2 buah, tongkat Jacob’s 2 buah, kamera 2 buah dan peralatan tulis

- Alat penggali seperti : cangkul, linggis, blincong masing-masing 3 buah

- Parang, gergaji dan alat-alat potong masing-masing 3 buah

-

I.7 Pelaksana

Personil pelaksana Peninjauan potensi batubara PT. Kelapa Gading Semitunggal di Kecamatan an Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara ini terdiri :

1. Ketua tim merangkap Geologist = 1 orang

2. Geologist = 2 orang

3. Surveyor = 3 orang

4. Tenaga lokal = 16 orang

BAB II

GEOLOGI

II.1 Geologi Umum

Geologi regional di sekitar daerah penelitian termasuk dalam Cekungan Kutai yang secara tektonik terpisah dari Cekungan Tarakan oleh Punggungan Mangkalihaat di bagian Utara, di bagian Barat dibatasi Tinggian Kuching berumur Pra-Tersier; yang merupakan inti benua Pulau Kalimantan. Cekungan ini di bagian Selatan terpisah dari Cekungan Barito oleh Punggungan Patermoster. Di bagian Timur cekungan terbuka sampai Selat Makasar. Cekungan Kutai ditafsirkan terjadi karena adanya gerak pemisahan Kalimantan dan Sulawesi pada akhir Kapur - Paleogen Awal (Samuel dan Muchsin, 1975).

Sedimen-sedimen Tersier yang terendapkan di Cekungan Kutai bagian Timur sangat tebal dengan fasies pengendapan yang berbeda-beda, namun demikian keseluruhan lapisan sedimen memperlihatkan siklus transgresi–regresi seperti halnya banyak cekungan lain di Indonesia bagian Barat (Schlumberger, 1986).

Urutan regresif Cekungan Kutai dari lapisan-lapisan klastik deltaik hingga paralik mengandung banyak lapisan batubara dan lignit, sehingga merupakan kompleks delta yang terdiri dari siklus endapan delta. Tiap siklus dimulai dengan endapan paparan delta (delta plain) yang terdiri dari endapan rawa (swamp), endapan alur sungai (channel), gosong sungai (point bar), tanggul-tanggul sungai (natural levee) dan creavase splay. Ditempat yang lebih dalam diendapkan sedimen delta front dan prodelta.

Selanjutnya terjadi transgresi, paparan delta kembali di atas endapan delta front dan prodelta. Siklus-siklus endapan delta ini terlihat jelas di Cekungan Kutai dari Eosen - Tersier Muda, progadasi dari arah Barat - Timur, yang ditandai oleh pengendapan Formasi Pulau Balang, Formasi Bebulu, Formasi Balikpapan, Formasi Kampung Baru dan endapan delta Mahakam yang berumur Kuarter

II.1.1. Urutan Stratigrafi

Urutan stratigrafi regional dari formasi yang tertua sampai yang termuda seperti teruraikan seperti berikut di bawah ini :

Formasi Pemaluan

Formasi ini memperlihatkan ciri litologi serpih dengan sisipan batupasir kuarsa dan batubara. Berbeda dengan formasi-formasi sedimen Tersier yang lebih tua, Formasi Pemaluan tersingkap pada daerah yang luas, menempati daerah topografi rendah. Berdasarkan kandungan fosil pada serpih, menunjukkan lingkungan pengendapan litoral – sublitoral. Umumnya tidak lebih tua dari Oligosen. Singkapan Formasi Pemaluan yang bagus teramati di daerah Sumberbatu, sebelah Tenggara Kota Bangun. Di daerah ini tersingkap sebagai inti dari antiklin Senoni.

Litologi terdiri dari serpih berwarna abu-abu - abu-abu kehitaman dengan sisipan batubara setebal 10 cm dan lignit setebal 30 cm. Kearah atas ditemukan sisipan batupasir halus berselingan dengan batulanau, berstruktur laminasi silang-siur dan sejajar. Di jumpai juga batupasir halus, bersisipan dengan serpih abu-abu, berlaminasi sejajar. Di atasnya teramati batupasir berwarna putih kekuningan, berukuran halus - sedang, dengan struktur laminasi silang-siur dan sejajar. Di atasnya terendapkan batugamping anggota Formasi Bebulu.

Dari litologi penyusun Formasi Pemaluan yang tersingkap di daerah Sumberbatu terlihat bahwa bagian bawah formasi ini diendapkan dalam lingkungan delta plain yaitu dengan dicirikan adanya batubara. Kemudian terjadi regresi, lingkungan berubah menjadi pantai dan diendapkan pasir pantai dan kemudian laut dangkal dengan diendapkannya batugamping Formasi Bebulu. Formasi Pemaluan mempunyai hubungan menjari dengan Formasi Bebulu (S. Supriatna Dkk, 1995).

Formasi Pulau Balang

Di atas batugamping Formasi Bebulu diendapkan Formasi Pulau Balang, formasi ini dicirikan oleh perselingan batupasir, batulanau dan serpih. Formasi ini dapat dibedakan dari Formasi lainnya karena perlapisannya sangat bagus dan relatif lebih resisten terhadap pelapukan dibandingkan formasi-formasi lain, sehingga mudah dikenal dari citra satelit.

Di Pulau Balang, formasi ini terdiri dari perselingan batupasir, batulanau dan serpih. Batupasir berbutir halus sampai sedang, keras; di dalam batupasir ditemukan bolder berdiameter 0,5 m dan lensa-lensa terdiri dari fragmen kecil lignit yang membentuk struktur silang-siur. Kearah atas ditemukan batupasir halus dengan laminasi silang-siur, berselingan dengan serpih keras berstruktur laminasi sejajar. Kemudian batupasir halus dengan sisipan konglomerat yang berfragmen ukuran 5 – 40 cm, fragmen batubara berwarna hitam ditemukan dalam konglomerat tersebut, di atasnya ditemukan batugamping tipis.

Dengan ditemukannya fragmen batubara menunjukkan adanya pengangkatan di daerah Barat dan endapan batubara berumur tua tererosi, terendapkan kembali pada Formasi Pulau Balang. Pengangkatan ini menyebabkan terjadinya progradasi delta ke Timur pada Miosen Tengah.

Di Desa Pemaluan, di atas batugamping Bebulu ditemukan batupasir halus berwarna abu-abu, mudah diremas; di atasnya dijumpai batupasir kuarsa halus dengan struktur silang-siur dalam dua arah (herringbone cross stratification). Adanya silang siur dalam dua arah ini menunjukkan endapan tidal facies, juga ditemukan batulempung yang berwarna abu-abu dengan struktur sedimen retak-retak (dessication crack) yang menunjukkan batulempung tersebut terendapkan langsung di atas air, serta dijumpai ripple mark dan burrow yang menunjukkan lingkungan laut dangkal.

II.1.2 Cekungan Kutai

Cekungan Kutai merupakan cekungan yang sangat dalam, ke arah Selatan dibatasi Cekungan Barito oleh sesar berarah Baratlaut – Tenggara yang disebut sesar Adang. Ke arah utara di batasi oleh Pegunungan Mangkalihaat. Menurut Rose R dan Hartono P (1978), Cekungan Kutai terjadi karena pemekaran berarah Baratdaya – Timurlaut. Terbukanya Selat Makasar pada kala Eosen menyebabkan Cekungan Kutai ideal sebagai pengendapan sedimen. Cekungan Kutai dapat dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu :

1. Cekungan Kutai bagian Barat, merupakan daerah rendah, sebagian besar tertutup rawa, danau dan aluvial, menandakan daerah ini masih bergerak turun.

2. Antiklinorium Samarinda merupakan antiklin sempit, memanjang berarah Timurlaut Utara – Baratdaya Selatan. Terjadi kemungkinan karena adanya shale diapire dan juga karena pergerakan-pergerakan sesar mendatar di basement.

3. Cekungan Kutai bagian Timur.

Beberapa sesar dapat diinterpretasikan dari citra satelit, antara lain sesar mendatar dekstral di Utara – Baratdaya. Sesar naik terlihat di Bukit Mangkujenang di sebelah Tenggara Samarinda. Sesar ini berarah Timurlaut – Baratdaya, sejajar perlapisan. Bidang sesar miring ke arah Timur, Formasi Pulau balang terangkat ke atas sehingga terletak di atas Formasi Balikpapan yang lebih muda.

Sedimen terlipat lemah – sedang dengan kemiringan sekitar 10° - 30°. Perlipatan memanjang dalam arah Baratdaya – Timurlaut. Terdapat sinklin besar dengan dua sisi landai dan antiklin kecil dengan sisi landai – sedang. Dua sinklin besar adalah sinklin Bahulak di Timur Kota Bangun dan sinklin Jonggon di Barat Tenggarong, dengan kemiringan sayap 10° - 20°.

Beberapa antiklin yang dipotong oleh Sungai Mahakam dari Barat ke Timur adalah sebagai berikut :

1. Antiklin Tenggarong, merupakan antiklin tegak mempunyai kemiringan di kedua sisinya 80°.

2. Antiklin Margasari, merupakan antiklin asimetri, sisi barat kemiringan 17° dan sisi Timur 44°.

3. Antiklin Muara Kaman, merupakan antiklin menunjam di Selatan Mahakam kemiringan sisi Timur 70°.

II.1.3 Pola Struktur Cekungan Kutai

Pola struktur Cekungan Kutai, berupa antiklinorium yang seluruhnya cekungan berarah Utara Timurlaut - Selatan Baratdaya dan secara keseluruhan berubah relatif Timur – Barat pada tepi bagian Utara Cekungan Kutai.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan pola struktur di atas dihubungkan dengan pengangkatan Tinggian Kuching di bagian Barat. Gupta (1988) menyebutkan bahwa pola tersebut dikendalikan oleh tektonik kompresi regional yang berarah Timur – Barat.

II.2 Geologi Daerah Penyelidikan

Susunan stratigrafi daerah penyelidikan didasarkan pada ciri –ciri litologi batuan yang tersingkap kemudian dikompilasikan dengan peta geologi lembar Samarinda. Batuan yang tersingkap pada daerah peninjauan adalah batupasir, batulempung dengan sisipan batubara dan dapat dikelompokkan ke dalam formasi Pulau Balang dan Pemaluan. Batupasir ini mempunyai kedudukan N 210 E/ 170, Batupasir mempunyai penyebaran di bagian Timur dan Selatan daerah penyelidikan sedangkan batulempung mempunyai penyebaran di bagian Barat dan Utara daerah penyelidikan. Struktur geologi yang berkembang adalah Homoklin

II.3 Penyelidikan terdahulu

Penyelidikan geologi sebelumnya di daerah Sebulu dan Muara Kaman antara lain oleh Supriyatna dari P3G Bandung dalam rangka pembuatan peta geologi lembar Samarinda pada tahun 1990.

Samuel dan Muchsin (1975), membahas tentang urutan stratigrafi sedimen tersier dengan fasies pengendapannya di Cekungan Kutai. Rose R dan Hartono (1978) menguraikan tentang evolusi tektonik Cekungan Kutai. Bukit Baiduri Enterprise (1978) meneliti tentang kandungan batubara meliputi penyebaran, kualitas maupun jumlah cadangannya. Allen GP Coadou (1984) menjelaskan tentang siklus pengendapan Cekungan Kutai.

Schlumberger (1986) menguraikan tentang siklus transgresi dan regresi endapan delta, endapan rawa, endapan sungai di Cekungan Kutai. Gupta (1988) menggambarkan pola struktur dan analisa tektonik Cekungan Kutai. Supriatna dkk (1995) menjelaskan hubungan antar formasi, siklus pengendapan dan cekungan pengendapan dari Cekungan Kutai.

BAB III

KEGIATAN PENYELIDIKAN

III.1. Penyelidikan Sebelum Lapangan

Rangkaian kegiatan ini berupa persiapan sebelum turun ke lapangan seperti pengumpulan data berupa penyediaan peta dasar, peta topografi dan peta geologi regional yang telah tersedia untuk kegiatan lapangan dengan skala 1 : 104.400 dengan perbesaran skala 1 : 52.200, penyediaan peralatan lapangan berupa kompas geologi, GPS Garmin 12 CX, palu geologi, kamera, tongkat Jacob,s, pita ukur, roll meter, handie talkie, topi lapangan, sepatu safety, tas lapangan, kantong plastik sampel batubara dan seluruh kebutuhan alat tulis dan keperluan pribadi lainnya serta pengevaluasian data-data sekunder.

III. 2. Penyelidikan Lapangan

Tahap Kerja Lapangan dengan metode pemetaan permukaan (surface mapping) Batubara yaitu dengan mengamati ciri-ciri fisik batubara, pengukuran kedudukan lapisan, ketebalan, penyebaran, dan tebal tanah penutup overburden (OB), juga dilakukan penelitian roof, floor, parting dan key bed untuk mengetahui pelamparan batubara. Ketebalan batubara dapat diukur langsung dilapangan jika roof dan floor diketahui, sedangkan yang tidak tersingkap semua dilakukan test pit dan trenching untuk mengetahui roof dan floor serta ketebalannya. Survey dilakukan dengan menyusuri aliran-aliran sungai dan jalan untuk mencari singkapan-singkapan batubara (outcrop).

Pemetaan Geologi permukaan juga dilakukan dengan tujuan mendapatkan variasi dan sebaran litologi serta struktur geologi. Data Geologi ini akan membantu dalam penentuan seam dan korelasi singkapan batubara serta berguna dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi batubara di daerah ini selanjutnya.

Data hasil Peninjauan diolah dan di evaluasi untuk mengetahui pola penyebaran seam batubara, cadangan batubara yang selanjutnya dapat digunakan untuk penentuan areal prospek (Prospecting Area) untuk permohonan atau usulan daerah Kuasa Pertambangan (KP) Penyelidikan Umum.

III.3. Analisa Kualitas Contoh

Analisa kualitas contoh dimaksudkan untuk mengetahui kandungan, sifat-sifat fisik dan kimia batubara meliputi : kandungan abu, Karbon (C), Belerang (S), kandungan air, HGI dan nilai kalorinya.

Pengambilan contoh dilakukan pada singkapan yang segar dan insitu. Analisa contoh kualitas dilakukan di Laboratorium PT. Sucofindo dengan metode Proximate.

III.4. Pengolahan Data

Berdasarkan data yang diperoleh dari pemetaan geologi, tahap selanjutnya dilakukan pengolahan data yang meliputi seluruh aspek-aspek geologi yang ada. Dari seluruh data yang diperoleh di lapangan kemudian di plotkan pada peta skala 1 : 60.000 secara keseluruhan dan membuat pola sebaran batubara berdasarkan korelasi data berdasarkan roof, key bed dan floornya dengan juga mempertimbangkan kondisi topografi, kontur struktur dan stratigrafinya. Berdasarkan hasil analisa diperoleh seam – seam batubara beserta jalurnya dan cadangannya dihitung berdasarkan rumus :

C = P x t x Dd x Bj

Keterangan :

C : Cadangan batubara

P : Panjang strike penyebaran batubara (m)

T : Tebal Batubara

Bj : Berat jenis batubara (1,3)

Dd : Down dip / Lebar batubara kearah kemiringannya berdasarkan

cross section

BAB IV

HASIL PENYELIDIKAN

IV.1. Geologi

Hasil penyelidikan yang dilakukan didaerah penyelidikan ditemukan 3 singkapan batubara. Secara umum di bagian Barat KP arah strike menunjukkan pola Timurlaut - Baratdaya (N 210 E) dengan kemiringan berkisar antara 17 sampai 23 derajat dan tebal batubara 0,25 – 2.15 meter, kemudian strike berbelok dengan arah umum Barat – Timur di sebelah Timur KP mengikuti kotak konsesi yang berarah Barat – Timur, diinterpretasikan adanya perubahan arah strike batubara ini karena adanya struktur geologi yang berkewrja di daerah tersebut. Hasil penyelidikan dan pencarian singkapan dapat dilihat pada lampiran peta.

Dari data hasil penyelidikan singkapan batubara dan dikorelasikan dengan hasil interpreasi kedudukan singkapan batubara serta posisi singkapan di lapangan maka didarah penyelidikan dapat dilakukan penarikan seam batubara menjadi 2 seam yaitu dari tua ke muda Seam A dan B. Lokasi penyebaran singkapan dan penarikan seam batubara dapat dilihat pada lampiran peta. Data singkapan pendukung untuk penarikan seam batubara dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1. Singkapan Pendukung Seam Batubara

Nomor

Seam

Nomor Singkapan Batubara

1

A

OC 02

2

B

OC 01, OC 3

IV.2. Hasil Analisa Kualitas

Dari 3 Singkapan batubara yang ditemukan, diambil 3 contoh (sample) batubara selama peninjauan ini dan dianalisa kualitasnya di Laboratorium PT. Sucofindo. Contoh yang diambil belum bisa mewakili semua seam batubara yang ada dan akan di detailkan pada tahap penyelidikan umum dan contoh ini diambil dalam keadaan segar (fresh sample) untuk mencegah oksidasi dan pengotoran karena lapuk dan memiliki ketebalan > 1 meter. Untuk pengambilan contoh ini dilakukan pada lokasi trenching singkapan batubara.

KODE SAMPLE
OC 1
OC 2
OC 3
PARAMETER
Seam B
Seam A
Seam A
Inherent Moisture
2.4
6.6
6.8
Total Sulphur
1.47
1.26
0.48
Kalori
8012
7105
7158
IV.3. Estimasi Cadangan Tereka

Berdasarkan penarikan pelamparan horisontal dan ketebalan singkapan pendukung masing – masing seam dapat dihitung volume cadangan batubara dengan pelamparan ke bawah (down dip) 50 meter, 100 m dan 150 meter dengan asumsi pelamparan serta ketebalan kontinyu. Mengingat kemiringan lapisan (dip) batubara yang landai – agak landai serta banyak singkapan yang belum tembus ke floor batubara maka ketebalan yag dipakai adalah tebal maksimum yang terukur.

Dari tabel perhitungan cadangan, daerah penyelidikan memiliki cadangan tereka berdasarkan klasifikasi cadangan standar Australia dan Amerika (USGS) dimana jarak antara titik – titik pengamatan atau singkapan tidak melebihi 2 km maka cadangan terekanya (indicated reserved) adalah sebagai berikut :

Dengan down dip 50 meter, cadangan batubara sebesar 3.814.200 ton

Dengan down dip 100 meter, cadangan batubara sebesar 7.628.400 ton

Dengan down dip 150 meter, cadangan batubara sebesar 11.442.600 ton

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah dilakukan evaluasi data hasil penyelidikan di wilayah Peninjauan PT. Kelapa Gading Semitunggal luas areal 4.731 Ha diperoleh 3 singkapan batubara dengan ketebalan 0.25 – 2.15 meter yang mewakili 3 seam batubara.

Berdasarkan pada morfologi, stratigrafi, struktur geologi daerah penyelidikan perlu penyelidikan lebih detail pada tahap penyelidikan umum mengingat minimnya singkapan yang didapat. Mengacu pada formasi batuan dan didukung dengan hasil analisa kualitas, lapisan batubara di daerah penyelidikan masuk dalam Formasi Pulau Balang dan Formasi Pemaluan. Dari hasil analisa contoh batubara diperoleh nilai kalori batubara 7105 - 8012 cal/g (adb).

Dari tabel perhitungan cadangan, daerah penyelidikan memiliki cadangan tereka berdasarkan klasifikasi cadangan standar Australia dan Amerika (USGS) dimana jarak antara titik – titik pengamatan atau singkapan tidak melebihi 2 km maka cadangan terekanya (indicated reserved) adalah sebagai berikut :

Dengan down dip 50 meter, cadangan batubara sebesar 3.814.200 ton

Dengan down dip 100 meter, cadangan batubara sebesar 7.628.400 ton

Dengan down dip 150 meter, cadangan batubara sebesar 11.442.600 ton



5 komentar:

Ricardo mengatakan...

Tolong koreksi interpretasi saya mengenai hal-hal di bawah ini apabila ternyata ada hal yang keliru.

pelamparan = dip

jurus = strike

penyebaran = distribution (spread?)

kemiringan batuan = rock slope

terima kasih.

kumbara mengatakan...

kangmas ricardo, saya mau menanggapi:
pelamparan=penyebaran=distribution ...
jurus=strike udah OK
kemiringan batuan=dip
rock slope=besar sudut lereng ...

ada pertanyaan lagi?
gak bisa panjang lebar sih di sini ...

hartono mengatakan...

Mas kalau daerah KP nya kalau boleh tau di Muara Kaman bagian mana mas? apakah masih dilanjutkan ke eksplorasi.
terima kasih.

super duper hebat mengatakan...

Mas dalam penaksiran cadangan ada asumsi perhitungan sampai pada down dip 50m,100m,150m, asumsi tersebut dasarnya darimana? karena dalam skripsi saya menggunakan asumsi tersebut dan ditanya dosen, sy tdk bisa menjelaskan.. tolong jawabannya. trims

MINERAL RESOURCES CO., mengatakan...

Pak Budi, kami saat ini bekerjasama dengan investor dari Thailand, kami mencari IUP batubara dengan kalori 6,500 up (ADB) dengan cadangan +/- 20 juta MT untuk di TO, apakah KP yang pak Budi selidiki ini masih bisa kami TO? Mohon kabar segera. Email saya: stevemulya@gmail.com, Pin BB: 286D8785. Thanks.

Steve Tan